Uncategorized

Beasiswa S3 di New Zealand

Sejak memulai S3 di Christchurch 3 tahun yang lalu, sudah ingin menulis topik ini, tapi belum kunjung terlakukan. Mungkin inilah saatnya 🙂

Tidak seterkenal beasiswa ADS dari pemerintah Australia, NZ juga punya platform beasiswa untuk negara berkembang. Untuk Indonesia (dan mungkin beberapa negara tetangga lain), namanya NZAS atau New Zealand Scholarships. Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini. Kalau tidak salah, deadlinenya adalah sekitar bulan Maret setiap tahunnya. Aku tidak terlalu hapal, karena bukan mendapatkan beasiswa yang ini. Tapi ada beberapa teman yang S2 dan S3 di Christchurch dengan beasiswa ini saat ini.

Selain NZAS, tentu saja teman-teman bisa mengapply beasiswa LPDP, tapi katanya sejak tahun lalu, beberapa Universitas di NZ tidak lagi masuk dalam daftar Universitas yang disetujui LPDP. Maklum, NZ adalah negara kecil di ujung selatan dunia. Total ada 7 Universitas di sini, tapi rangking top dunianya memang tidak sementereng Universitas di Inggris maupun USA sana. Sejak perubahan kebijakan ini, memang jumlah mahasiswa dengan beasiswa LPDP di sini langsung berkurang jauh. Sayangnya, aku juga bukan salah satu penerima beasiswa LPDP, walaupun dulu pernah mengirimkan dokumen aplikasi dan mangkir saat jadwal wawancara. That’s another story.

Khusus S3, New Zealand juga punya New Zealand International Doctoral Scholarship (NZIDRS). Ini beasiswa S3 yang terbuka bagi siapa saja di negara mana saja. Aplikasinya ditutup setiap bulan Juli setiap tahunnya. Barusan berusaha cari link nya tapi tidak ketemu, mungkin karena beasiswanya sudah tutup buat tahun ini. Waktu aku mengapply tahun 2015, sekitar bulan maret sudah ada informasi onlinenya. Karena terbuka buat semua negara, beasiswa ini tentu saja superkompetitif, dan aplikasinya juga tidak main-main. Salah satu syarat adalah sudah punya provisional supervisor yang siap menampung kita di salah satu Universitas di New Zealand. Dan tentu saja, aku dulu gagal dengan gemilang meraih beasiswa ini.

Tapi yang mendorongku semangat menyiapkan aplikasi beasiswa dulu adalah memang NZIDRS ini. Tahun 2015 dulu, ilham untuk mencoba mencari beasiswa S3 ke New Zealand tiba-tiba turun pada suatu ketika saat makan siang bersama teman kantor, di bulan Maret. Saat itu tentu saja sudah terlambat untuk mengapply NZAS, jadi segala upaya difokuskan ke NZIDRS. Dengan deadline bulan Juli, total persiapan yah sekitar 4 bulan itu, mulai dari meminta referensi ke mantan dosen S1 dan S2, persiapan dan kemudian tes IELTS, mengisi aplikasi, dan yang paling berat, mencari supervisor. Karena studi bidang Health science, khususnya human genetic terfokus di Universitas Otago dan Auckland, jadi waktu itu mempersempit area pencarian hanya di Universitas Otago sebagai permulaan. Bukan apa-apa, kata teman yang kuliah S2 di Auckland, biaya hidup di sana lumayan mahal, apalagi buat keluarga. Ternyata tidak sesulit sekaligus juga tidak semudah yang dipikirkan. Akhirnya mendapatkan kepastian supervisor itu  sekitar beberapa minggu sebelum deadline beasiswa. Mana aplikasi beasiswa NZIDRS itu harus dikirim hardcopy ke Wellington, lalu July itu kan menjelang lebaran. Kalau ga salah, hanya punya waktu seminggu untuk memfinalisasi dokumen aplikasi, termasuk membuat proposal penelitian, esai tentang impact research dan meminta calon supervisor mendapatkan surat rekomendasi dari Head of Department.

Mungkin karma memang sudah akan berbuah ya waktu itu, semua tiba-tiba berhasil diselesaikan dan aplikasi pun dikirim.

Setelah itu, juga mengisi aplikasi PhD di Universitas dan saat aplikasi ini, diberikan link untuk aplikasi University of Otago Doctoral Scholarship dan ada satu lagi beasiswa universitas otago khusus health science.

Singkat cerita, sebulan kemudian dapat kabar kalau granted universitas of otago doctoral scholarship. Horee. Beasiswa NZIDRS masih belum berkabar sampai beberapa minggu/bulan kemudian, lupa.

Kembali ke tadi, setiap Universitas di sini memang punya jalur beasiswa S3 sendiri. Di Otago kalau ga salah, ada jatah sekitar 200 per tahun. Tapi memang sebagian besar akan diserap oleh student domestik mereka. Beasiswa ini tidak ada deadline, tapi mereka mengevaluasi aplikasi dan memberikan beasiswa setiap bulan. Untuk student domestik, syaratnya cukup mudah, asal lulus S1 dan honours first class (atau master), tepat waktu, GPA min 3.6, mereka otomatis granted beasiswa. Jatah sisanya lalu akan diberikan untuk aplikasi dari luar negeri seperti kita-kita ini. Pelamar biasanya selalu akan lebih besar dari jatah, jadi ya sebenarnya kompetitif juga buat international student.

Beberapa pertimbangan yang dilihat dalam skrining untuk beasiswa kampus ini adalah GPA, pengalaman dan output riset sebelumnya. Publikasi juga jadi poin yang sangat krusial di sini. Kalau sudah pernah punya publikasi first author sebelumnya, kesempatan akan lebih besar.

Jadi, GPA (atau IPK) saat kuliah memang bukan tujuan satu-satunya. Tapi kalau mendapatkan hasil yang baik, bisa jadi membuka salah satu pintu kesempatan dan sebaliknya jika hasilnya tidak maksimal, bisa jadi menutup sepenuhnya salah satu pintu itu.

Selamat berburu beasiswa

 

Advertisements
Uncategorized

Connection

I would say a person without any social media account might be amongst the happiest and most content people in the world. They don’t feel the need of people agreeing what they think or say, and don’t need to show the world of what they achieve and for people to admire them. They live in their very real world, with real people and real connection.

I feel myself, whenever I feel lonely and need some connection to the world, I have the urge to post something in my social media, and crave for the likes and comments, crave for the connection with people. But why can’t I connect with the real people in my life? of course they are many faraway friends that I would like to connect with, and it’s where social media comes in. But again, why can’t we just connect to those near to us? Our family, our friends, our housemates, our neighbours?

Uncategorized

September

Haha, pengen ngoceh2 aja, tapi ga tahu mau kasih judul apa. Kata “September” kayaknya manis-manis gimana gitu, jadi sudahlah judulnya September aja.

Belakangan ini, sepertinya di medsos lagi viral cerita seram KKN di desa penari. Ga terlalu ngikutin ceritanya sih, cuma pas baca salah satu versi plesetannya di Mojok yang lucuk nya luar biasa, jadi kok berkesan, haha. Yang kubaca adalah versi dari sudut pandang seekor ular. Penulisnya kok kocak dan pintar sekali merangkai cerita, dari Nagini sampai Pai su chen muncul aja gitu dengan mulusnya. Iri…

Dan dalam rangka mengasah kemampuan (atau ketidakmampuan) menulis, jadilah rasanya pengen menulis di blog, meskipun tidak punya topik khusus untuk ditulis. Sebenarnya, kadang-kadang suka muncul ide ini itu buat ditulis di blog, tapi entah kenapa, idenya suka muncul saat2 tidak kondusif, dan ga ingat buat dicatat, jadilah berlalu begitu saja.

Belakangan ini, beberapa teman bercerita tentang kesusahan masing-masing. Namanya hidup sebagai pelajar di perantauan, tantangannya memang macam-macam, mulai dari keluarga (yang jauh di sana) sakit, supervisor yang tidak supportif, sampai masalah finansial. Seindah apapun tampilan di luar, apalagi di laman medsos masing-masing, semua orang pasti menyimpan perjuangannya masing-masing. Ada teman yang berjuang menyelesaikan tesis S3 sampai sering sekali bermalam di kampus, ada teman yang selalu tampak riang gembira, ternyata sedang bersedih mendengar kabar orang tua yang sedang sakit, ada yang pusing memikirkan experiment yang tidak kunjung berhasil baik di tengah waktu yang semakin sedikit. Macam-macam.

Semua mengingatkan diriku untuk selalu bersyukur. Kami memang tidak berlebihan, dalam hal apapun juga, kerja, sekolah boleh dibilang medioker, anak-anak juga tidak menonjol di sekolah, finansial juga biasa-biasa saja, kalau tidak mau dibilang papa, tapi banyak sekali hal yang patut disyukuri. Kesehatan dan berkumpulnya keluarga adalah salah satunya. Tidak banyak hal lain yang lebih penting dari dua hal ini, setidaknya bagiku. Seperti layaknya manusia (yang kadang serakah seperti diriku), tentu banyak hal lain yang kuinginkan, tapi mungkin cukuplah itu hanya sebagai motivasi dan pendorong semangat, bukan harga mati untuk kemudian melupakan banyak hal penting lain dalam hidup.

 

 

 

 

 

 

 

Uncategorized

Life lately

It’s been a while since I write. I thought about writing here a lot, but it seemed to be hard to find the right mood to write. My thought seems to be calmest when I bike, because, you know..I’ve known the way, and my thoughts are free to wander. But once I arrived, either at school or at home, there seems to be plenty of other things to do, laundry, dishes, kids, and Netflix :P.

Anyhow, I just remember I haven’t written anything for our 3rd year anniversary coming here. I suddenly thought about that after seeing the pictures we got two years ago on the trip to Mount Cook. Owen and Lala were much much younger in those photos, making me, inevitably think about all the time we’ve spent here. 3 years is actually not a short time at all. It’s just amazing to see how they grow so much already. The picture in the left is taken at the top of Tasman Lake hike and the one on the right was taken several weeks ago at Riccarton Farmer Market.

Looking at these old pictures make me appreciate all the effort and time to take pictures at every moment, especially in those trips we made. Sometimes, I felt people put too much energy on taking photos, that they forgot to enjoy the moment. All the hassle and the re-take. But looking back now, I am truly grateful that we have those photos. I guess that’s the benefit of going with friends. You have much much more photos. Look at this one, for example, it makes me so happy just looking at it. It captured the laugh, the smile of the moment, that I can still feel it now.

IMG_20180103_134811

So, back to the moment,

This year, quite a lot has happened. First, I went home by myself for a whole month. Time just flew by while I was back there, but poor the kids I suppose. And Lala said some very funny stuff once I got back. Once she told me, that she almost forgot how I looked when I arrived back at Christchurch, and she almost thought I was someone else. A month for a kid like her must have felt like a lifetime.

And right after that, I went to UK! and Scotland! still can’t believe it happened. Being invited to talk at a conference, staying in a decent hotel, taking an overnight bus, and being at King Cross station. Too bad, I didn’t remember  it is where Harry Potter took the Hogwart express, otherwise, I would have taken some photos there.

We’ve been busy this year, in a good way, but sometimes I felt that I haven’t done enough for the kids.  We haven’t done any big trip this year. There just seem so much to do, so little time, and doesn’t feel right to take days off to go for a trip. But we are having a big one, exploring north island in December. Really hope that I’ve already submitted my thesis by the time.

3 years, should be the end of this PhD journey, but we are just about to begin another one. I am afraid, I have to admit. But then I think again, 3 years ago, or 4 years ago, we would have never imagined that we would make it so far. But things seemed to be getting together at that time. Just like Universe are working together to make it work. Oh, we did our parts too, but many things just fall into their places, and make it right. I believe, it would be the case too. Either we ended up here, or have to go back, we’ll find our way.

IMG_20180102_100739

Uncategorized

8 years

8 years ago today, we are struggling to welcome you into our life. Yes, it’s not been an easy way, but when you finally arrived, oh how happy we were, me and your dad. We’ve been waiting for a while.

You as a baby and toddler, so cute and lovely. And you were so like your dad in many ways, even then. You are always outgoing, not shy at all, and wave at people you know wherever you go. I remember this time when we were on the way to the Market. I was walking, and you are on your little bicycle. Lala was probably on her tricycle. We were passing this nanny holding a baby with a cloth. You suddenly stopped and got down from your bike, approaching her, saying “Mba, berapa bulan anaknya?” (Mam, how old is he?). Just like what your dad would do, as small talks. And you were not even 4 at that time!! So amusing.

And can’t imagine you are 8 already today. Things have changed a lot. Your interests have grown from Thomas the train to power rangers to Ultraman to Spiderman to Avengers to Pokemon, from drawing to lego to soccer to computer games. And for some, changed dramatically too. Last year, all you wanted for your clothes were avenger and spiderman-theme. This year, you want nothing with avenger and spiderman. You are even reluctant to wear those you already have. aarrgghhh.

During these 8 years, you have had your happy moments. And hard moments too, when we -me and dad- are too hard on you, when we argue, when we fight, when we cry. I also remember your first year in primary school, you struggled to find friends at school. There were only 5 boys in your class, and two of them, who you liked to play with, often were mean to you. I am grateful that you have lots of good friends now. I am very happy to see you have many (too many) friends to invite to your birthday party yesterday. I am sorry that you have to leave out some. I wish we could invite everyone you like, but we are not millionare as you know. I am happy that they all came, and I hope you have the best time.

But in many ways, you are always you. Kind-hearted, generous, smart, fast-thinking, easy-going. And I hope you will stay being you.

Happy 8th birthday Owen, be kind always, be healthy, be happy.

Uncategorized

The Big Bang Theory

One of the greatest TV sitcom (or it’s what they say at least), has just come to its end. Yes, I am talking about the Bing Bang Theory.

I am  a great fan of “Friends”, another big hit sitcom in history. I’ve watched it over and over again, from the first episode of the first season to the very last episode. I’ve most likely watched every episode at least twice. If I leave it for some time, and I come back to watch it again, It always feels nice, so yeah, I just keep watching.

Here in New Zealand, the TV NZ on demand has the full season of friends, so again I watched it one more round. When I watched them all, I feel like to want some more. That’s how I bumped into “The Big Bang Theory”. It’s kind of similar to Friends, but also kind of different.

With friends, I really enjoy the friendship, their youth. Ah, and also the relationship between Chandler and Monica, there’s something really sweet there. But most of all, the friendship. I kind of envy the luck of those six people, to have friends they can stick with, anywhere, anyhow. Not every person has that luck. All people have friends, but not everyone has that kind of friendship, only the very lucky ones.

And that includes those guys in the big bang theory. I think that’s one of the reasons that I grow to love that show very much.  Other reasons are the very clever lines they always say. It’s just so entertaining. However there are parts that I don’t like, especially when Leonard was dating Raj’s sister, Priya. I guess I am a fans of Leonard-Penny.

Getting older, I treasure true friendship more and more. You know, you get to know more people, but somehow become more selective of people who you let get into your heart. And I guess, leading a married life makes you not socializing much (especially when you are doing a PhD). I realize many people are your friends, “just” friends. You meet, you chat, but heart-to-heart conversation becomes rare and rarer. it’s just probably that we don’t have all the time that we had when we were younger.

 

 

Uncategorized

Fulfilling a circle

61259558_10217684648681602_6251892917342830592_n
~ Tower Bridge, London~

 

Aku sudah lupa kapan aku pertama bermimpi untuk ke Eropa, mungkin saat ku kecil, saat membaca tentang Isaac Newton and Galileo Galilei, atau saat mengidolakan Stephen Hawking. Cita-cita tentang kuliah ke luar negeri adalah selalu tentang Eropa sebenarnya. Tapi seiring waktu, cita-cita itu perlahan terlupakan, dan berkurang kemuluk-mulukannya.

Menginjakkan kaki di London bulan ini, lalu melanjutkan solo travel ke Glasgow menemui sahabat, aku merasa seperti , fulfilling a circle of childhood dream. Akhirnya menginjak tanah Eropa jugaaaa (walaupun cuma di UK, dan tidak ke main daratan Eropa).

Kesan pertama tentang London agak-agak tidak menyenangkan. Orang-orangnya kurang ramah, termasuk petugas-petugas di stasiun baik bus, kereta maupun underground. Mereka melayani dan menjawab pertanyaan sih, hanya saja tanpa senyum dan…yah begitulah, kurang ramah. Ini juga mencakup para penjaga toko. Cerita tentang penjaga toko agak berbeda lagi. Rata-rata penjaga yang kutemui orang-orang timur tengah begitu, dan entah kenapa, kesan yang kudapatkan, mereka agak-agak flirty. Kalau di Indonesia, macam yang suka suit2in kalau di jalan, atau menyapa, “Neng, Enci, mau ke mana?” Ga seram, hanya membuat tidak nyaman.

Banyak orang bilang London tidak aman, ada benarnya juga. Walaupun sejauh ini aman-aman, kemarin rekan sesama peserta konferensi bercerita professornya kecopetan di area Tower of London. Daerahnya padahal bukan yang kumuh atau ramai gimana, malah cukup menyenangkan sebenarnya, tapi yah begitulah, kejahatan memang ada di mana-mana.

Tapi begitu menginjak Scotland, kesannya sangat berbeda. Orang-orang terlihat sangat ramah, banyak mendapat senyuman dari stranger. Di kereta, orang juga saling mendahulukan.

Aku tiba di London satu hari sebelum konferens di mulai, jadi hari itu dipakai untuk jalan-jalan sedikit berkeliling London.Kalau mau ke tempat-tempat wisata umum di London, bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri tepian sungai Thames. Hotel saat konferensi ada di dekat Tower of London dan Tower Bridge. Aku kemarin kira-kira mengikuti itinerary dari sini: https://www.findingtheuniverse.com/five-must-dos-for-day-in-london/

Ga sepenuhnya diikuti plek-plek sih, garis besarnya saja. Terutama karena kemarin langsung jalan setelah penerbangan 26 jam dari New Zealand, jadi setelah 4-5 jam, sudah agak capek. Dari daerah Tower of London, menyebrangi London bridge, lalu melewati borough market (Tapi sayang, masih pagi jam 10an, dan belum lapar, jadi ga mampir makan), dan setelahnya menyusuri tepian sungai Thames sampai ke Westminster. Di perjalanan melewati Tate modern gallery dan Eye of London, tapi ga mampir, karena tujuannya sebenarnya mau melihat Buckingham palace, :). Melewati Big Ben juga, tapi sedang renovasi, jadi tidak terlihat cantiknya. Di sebelah Big Ben, adalah Westminster abbey, tempat parlemennya UK. Baru tahu juga setelah browsing sepulangnya dari sana, kalau di sanalah tempat makamnya Isaac Newton, yang padahal sangat ingin kukunjungi.

 

Dari Buckingham palace, aku naik tube ke daerah covent garden, lalu jalan kaki ke The British Museum, karena penasaran sama museum ini. Museumnya memang besar sekali, tapi karena sudah cukup capek berjalan dari pagi, jadi kurang maksimal juga. Dari sana pulang ke hotel naik tube lagi. Dan langsung tepar, tertidur jam 5 sore, tanpa makan malam. Terbangun-bangun jam 1 pagi. Masih jet lag.

61432991_10217684650081637_7567749336377851904_n
~Buckingham Palace, tapi gagal melihat upacara pergantian guard~

Selesai konferens, aku naik bus malam ke Glasgow, berangkatnya dari Victoria coach station. Sampai di Glasgow pagi-pagi. Sangat bersemangat karena akan segera bertemu sahabat yang ga lama-lama banget, Anggit. Kami kurang lebih 3 tahunan tidak bertemu setelah sama-sama resign dari kantor. Dulu dia adalah teman duduk sebelah di kantor, teman ngobrol, teman makan siang, dan teman bermimpi. Aku resign kuliah ke NZ, dia resign mengikuti suami yang kuliah di Glasgow. Sunguh tak terbayangkan akan bisa ketemu di Glasgow sih, karena NZ-Scotland itu jauh sekali, dan mahal flightnya. Kalau tidak ada undangan konferens, tidak mungkin akan mampir ke sini.

~Jalan-jalan di Glasgow, mengunjungi kampus U of Glasgow yang bagaikan Hogwart, cantiknya~

Dua hari di glasgow (setengah hari di antaranya kami juga jalan-jalan ke Edinburgh), rasanya senang sekali. Seperti bertemu keluarga lama. Dan sungguh, ku jatuh cinta dengan Scotland (kecuali cuacanya). Akhir Mei, yang harusnya adalah akhir Spring menuju Summer, cuacanya bagaikan winter di Christchurch, disertai hujan :(. Selain cuaca, pengalaman di Scotland sangat berkesan. Ok, mungkin ini bias, karena ada teman di sana, haha.

~Edinburgh yang cantiiik banget~