Uncategorized

Cherish Life

During summer time like this, all seems to be moving and working, and thrive. This morning, while hanging the laundry outside to dry under the sun, again I observed that several webs have been build in the hanger although we use it almost every day; clearly the spiders have been working hard, to build it again and again after some mean humans keep destroying their houses. Sorry spiddy, we need the space.

I feel that we are working harder during summer as well, because days are longer, warmer. I remember during winter time, it gets dark around 5.30ish and even though the kids probably get to sleep earlier, sometime it’s just very cold and I can’t really work late. But these days, I really like to stay up late, to enjoy some movies or getting some work or writing done. I am a late person. It find it really hard to wake up early.

Grass is also growing very fast during spring and summer, flowers are blooming. And just a couple of days ago, we found two of our sunflower plants survive and bloom. We have planted several in early spring, but Andry has accidentally killed them while doing the mowing, thinking that it was some weed :(. Kids were heartbroken at that time. So it was really a nice surprise when they found that two actually survive and even bloom. These are the two that I planted in some dry area, which I didn’t think they will survive. clearly nature always find a way to cherish life, no matter how hard the situation is.

P_20190213_200841

Advertisements
Uncategorized

Happy CNY 2019

“Friends become our chosen family”

Hari ketiga tahun baru imlek, kalau di Medan, sepertinya kami masih akan sedikit gegap gempita. Paling sedikit, kami mungkin masih sibuk mengunyah kue kering atau kuaci, dan masih ada satu dua sodara yang masih saling berkunjung. Tapi di sini, di Christchurch, semua sudah kembali normal.

Hari imlek tahun ini cukup istimewa bagiku, dibanding dua tahun sebelumnya, dan sesuai dengan quote di atas, ini tentu tidak lepas dari keberadaan teman-teman di sini. Tanpa keluarga besar, tiap tahun kami memang memilih merayakan bersama teman-teman, daripada hanya dengan keluarga inti sendiri. Ada beberapa teman yang selalu berulang, tapi teman lama dan baru juga pergi dan datang silih berganti.

Tahun ini kami merayakan sacapme atau malam sebelum imlek dengan makan-makan di rumah kami bersama beberapa teman Chinese Indonesia. Bukannya bermaksud rasis, tapi rumah kami tidak terlalu besar, jadi berhitung juga berapa orang yang bisa dimuat, dan karena potluck, kami tidak bisa menjamin makanan yang datang akan halal semua, jadi demi amannya, kami mengundang teman-teman dekat yang memang merayakan. Menunya hanya sederhana malam ini, tapi tetap sukses membuat kekenyangan.

Besoknya, hari pertama imlek, karena bukan hari libur, anak-anak tetap sekolah, dan kami tetap bekerja. Sebelum-sebelumnya, aku sudah berniat dalam hati ingin ke wihara, tapi sore itu Eka malah ajak jalan-jalan di taman seberang kampus, sambil anak-anak scooter-an (*dan aku lupa niat ingin ke wihara). Pulang dari situ, dan setelah mampir sebentar ke perpustakaan mengembalikan buku, sudah jam 7 malam, dan karena ada janji mau visit tetangga, kami coba mampir ke wihara dekat rumah, tapi ternyata sudah tutup, huhu.

Malamnya, kami mampir ke tetangga, yang merupakan orang Cina (Cina benaran ini mah, bukan Indonesia :)) yang bersuami orang Jerman. Kami belakangan sering main, karena anaknya satu sekolah dengan Owen Lala. Di sana, minum2 dan ngemil2, berasa mirip imlek juga sih, haha. Ga sampai satu jam sih di sana, karena kami berdua ngantuk dan ingin bersantai nonton bareng di rumah, mumpung besoknya libur.

Iya, justru di hari ke-2 imlek, di sini pas tanggal merah, Waitangi day, yang merayakan perjanjian Orang Maori dengan European zaman dulu kala. Jadilah pagi-paginya kami mampir ke wihara, cuma untuk pai-pai doank. Siangnya kami ada acara makan siang bareng dengan beberapa teman pelajar Indonesia di rumah salah satu teman. Menunya mie ayam. Cukup lama kami di sana, dari jam 12 siang sampai 4 sore. Mayoritas mereka adalah muslim, tapi karena teman-teman dekat, rasanya senang saja, ngobrol2 sama ketawa-ketawa. Anak-anak juga sibuk main sendiri, karena Tuan rumah juga punya anak sebaya (walaupun disela-sela berantem awalnya).

Yah, jadi overall, mirip2 perayaan imlek lah, walaupun tidak bisa bersama keluarga. Tapi teman yang baik sudah seperti keluarga kan. Apalagi saat semua tinggal berjauhan dengan keluarga begini.

Setelah dua tahun lebih di sini, aku baru menyadari, rasanya kami lebih banyak menjalin pertemanan di sini, ketimbang dulu di Jakarta. Di Jakarta, sebenarnya teman-teman bertebaran di sana sini, mulai dari Elisa, tempat dekat sejak sekolah, Witi, tempat dekat saat kuliah, juga Ting dan Pir, teman kuliah; Yayat, teman dekat kuliah dan juga kos-kosan, belum lagi teman-teman dekat di kantor. Tapi ya ampun, hampir ga pernah kami main bareng. Aku kerja di Jakarta 11 tahun ya, ke rumah Elisa cuma 1 kali, ketemu Witi, kayaknya kurang dari 5 kali. Yayat, ga pernah lagi ketemu sejak kami sama-sama menikah dan keluar dari kos. Bukan apa-apa, Jarak memisahkan kami, haha. Witi dulu tinggal di Bintaro, ke rumah dia, bisa-bisa 2 jam mungkin dari Bekasi. Terakhir ke tempat dia sepertinya saat bantu dia pindahan kos dari Pondok Indah ke Bintaro, sejak itu, mungkin bertemu hanya 1 atau 2 kali, di Mal dekat wihara, haha.

Jadi ya, tahun ini imlek terasa istimewa, karena aku merasa menemukan kembali teman, sahabat. Menemukan kembali aktivitas saling membagi masakan, saling mengundang makan, saling mengunjungi, kadang-kadang saling menitip anak. Walau jauh dari keluarga besar, kami tidak lagi terlalu kesepian.

Uncategorized

Human

If we were really to see one another as brothers and sisters, there would be no basis for division, cheating and exploitation among us. Therefore it’s important to promote the idea of the oneness of humanity, that in being human we are all the same ~Dalai Lama

Sudah lama topik ini berdiam di pikiranku, tentang bagaimana kita mempersepsi perbedaan dan persamaan. Beberapa hal yang mengusik di antaranya mengapa sebagian orang menganggap kelompok lain begitu berbeda dengan dirinya, misalnya di zaman pilpres dan pilkada kemarin. Kita dan mereka terasa begitu kuat polarisasinya. Kemudian, tentu aja peperangan tiada akhir di berbagai tempat. Palestina Israel, Myanmar Rohinya, Dulu Serbia Bosnia, lebih dulu lagi Jerman Yahudi. Hal yang mendasari semua keributan itu adalah perasaan berbeda, kemudian perasaan bahwa diri sendiri, dan kelompok sendiri lebih baik daripada orang atau kelompok lain.

Dua malam yang lalu, saat bersepeda pulang dari kampus, aku mampir berbelanja sedikit groceries. Saat memarkir sepeda di parkiran belakang Riccarton Mal, aku melihat beberapa orang di pintu masuk mal, beberapa wanita yang ada di grup itu, berkerudung. Serta merta, aku membatin, apa mereka orang Indonesia? Dan kemudian, muncul perasaan akrab seketika, ketika pikiran berasumsi bahwa mereka mungkin saja benar orang Indonesia.

Aneh sekali, sejak di sini, berada di luar Indonesia, ada keakraban tersendiri dengan teman-teman satu negara. Melebihi keakraban misalnya dengan teman-teman satu Ras dari Cina atau Malaysia misalnya. Sentimen kebangsaan mengalahkan sentimen ras.

Aku tidak tahu, apakah teman-teman Indonesia Muslim di sini, akan merasakan hal yang sama saat melihat atau mendengar teman Indonesia keturunan Cina sepertiku di sini. Apa mereka juga akan merasakan keakraban yang lebih dibanding dengan teman muslim dari negara lain misalnya.

Kembali di quote di awal tulisan tadi, aku jadi berpikir, bahwa perasaan berbeda dan sama itu elastis, dan relatif.

Aku ingat dulu saat kuliah di Bandung, di perguruan tinggi negeri, di mana mahasiswa keturunan Cina bisa dihitung jari, ada perasaan berbeda yang muncul. Di kelas kuliah, sebagian besar teman adalah Muslim, yang perempuan sebagian besar berkerudung, dan sebagian besar berbicara Sunda, lengkap sudah untuk menimbulkan rasa terisolasi. Makanya dulu senang sekali berkumpul dengan teman-teman KMB 🙂

Makanya, terasa aneh sekali, saat sekarang melihat perempuan berkerudung menimbulkan rasa akrab. Hal yang sama yang membuatku terasing dulu.

Mungkin, itu karena kita selalu membanding-bandingkan, dan mencoba mencari perbedaan. Mungkin kita lupa melihat hal-hal yang sama yang kita semua miliki.

Di atas semuanya, kita adalah sama-sama manusia. Kita punya hasrat yang sama untuk ingin bahagia, untuk merasa damai, untuk merasa tentram.

Andaikata, saat ini bumi dihajar meteor, dan semua kehidupan di bumi terancam seketika, akankah kita merasa senasib sepenanggungan? Bukankah saat itu, tidak lagi penting apa pilihan politikmu? Bayangkan saat engkau berada di bumi yang sudah hancur, tidak ada apa-apa lagi yang selama ini engkau jadikan bagian dirimu, rumahmu, pekerjaanmu, semua lenyap. Dan bayangkan saat itu, hanya ada satu orang lagi yang juga masih hidup, dan dia sama sekali berbeda denganmu, dalam segala hal, agama bangsa, orientasi seksual, apa saja. Akankah kamu akan merasa kalian adalah satu? sama-sama manusia?

Lebih jauh lagi, kadang aku berpikir, di bumi ini, kita juga sebenarnya satu dengan segalanya, pohon, lebah, bunga, binatang, mikroba, segalanya. Kita berbagi bumi yang sama, kita adalah bumi

 

Uncategorized

Tahun baru 2019

Hari ini, tanggal 31 Desember 2018.

Tahun ini rasanya berjalan super cepat, terutama di penghujung tahun. Awal tahun kemarin, kami awali dengan jalan-jalan yang berkesan ke Mount Cook bersama teman-teman yang menyenangkan. Lalu hidup diisi dengan bayangan pulang kampung di bulan Maret. Hampir dua bulan yang malas-malasan dilewatkan di kampung halaman, menimbun lebih dari 5 kg berat badan tambahan. Kami kembali ke Christchurch di awal bulan Mei, dan entah bagaimana, tahu-tahu kami sudah di ujung tahun.

Minggu lalu, kami melakukan perjalanan ke ujung pulau selatan NZ, perjalanan terakhir yang menutup tahun ini. Perjalanan 3 hari 2 malam dengan teman dekat, menjadi perjalanan yang menyenangkan, walaupun ditempuh dengan waktu 9 jam pergi dan 9 jam pulang. Anak-anak pun cukup kooperatif, owen tidak mabuk perjalanan sama sekali, dan tidak rewel selama perjalanan panjang pergi dan pulang. Karena berangkat jam 3 subuh, jam 6-7an, kami sudah sampai di Moeraki Borders untuk melihat matahari yang baru terbit, dan jam 8an pagi sudah sarapan di kampus Otago di Dunedin. Dari Dunedin, kami ke Nugget Point di Catlins, dan tiba di Invercargill sekitar jam 5 sore. Dari situ, kami masih ke bluff, kota paling selatan, sekitar 20 km an dari Invercargill, dan berburu matahari terbenam di Bluff hills. what a memorable trip.

 

Malam ini, kami menutup tahun baru dengan BBQ-an di rumah bersama beberapa teman dekat. It turned out to be very fun and enjoyable. Talks, laugh, playstationing, dan sekitar jam 9an, tiba-tiba ada kembang api menyala, pas di depan pintu samping tempat kami BBQ-an. Anak-anak girang sekali. Tadinya dalam hati, sempat sedikit menyesal kenapa anak-anak ga diajak ke hagley park menonton kembang api. Thanks tetangga, jadinya anak-anak senang menonton kembang api, tanpa perlu kehujanan dan keanginan. Dan seperti biasa, di acara-acara begini, kami sering lupa mengambil foto 🙂 Biarlah kenangan disimpan di dalam hati saja, hahaha.

Dan besok kami akan memulai tahun 2019 dengan perjalanan satu hari ke Kaikoura bersama beberapa teman lain.

Tahun 2018 telah menjadi tahun yang sangat baik buat kami, ada begitu banyak hal baik terjadi, ada begitu banyak hal yang patut disyukuri. Apalagi mengingat awal tahun kemarin, memulai tahun baru dengan sedikit gentar, sangat bersyukur di akhir tahun ini bisa kembali sedikit optimis.

Setelah bekerja full sabtu minggu untuk beberapa lama, dan sempat bekerja lebih dari 60 jam seminggu, akhirnya jadwal kerja Andry menjadi agak normal belakangan, dan libur seminggu sekali di hari minggu. Sejak itu, hidup kami menjadi lebih teratur iramanya, dengan hari sibuk senin-jumat, jadwal bersih-bersih rumah jumat or sabtu, dan hari santai atau jalan-jalan di hari minggu. Nikmat waktu luang keluarga yang sungguh teramat kusyukuri.

Kami juga berhasil menghentikan anak-anak menonton sama sekali selama hari sekolah. yah, walaupun mereka jadi keranjingan nonton setiap weekend, tapi rasanya tetap cukup senang berhasil mengurangi screen time mereka, dan bisa melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat.

Waktu pulang kampung kemarin, aku juga akhirnya bisa membawa papa jalan-jalan ke Bali sambil konferens. Walaupun cuma beberapa hari, dan penyusunan itinerary yang kurang optimal, sehingga banyak habis waktu di jalan, tapi paling tidak, aku merasa seperti sudah membayar hutang membawa Papa jalan-jalan ke Bali.

Belakangan ini, kami juga rasanya lebih punya lingkaran pertemanan yang lebih stabil, dengan beberapa teman dekat yang konstan berinteraksi. Setelah dua tahun lebih, akhirnya aku mulai merasa Christchurch sebagai rumah.

Apalagi kami akhirnya menemukan wihara yang rasanya bisa kami jadikan rumah kedua dan komunitas.

Di sekolah, walaupun tidak luar biasa, anak-anak juga naik kelas dengan baik, dan banyak kemajuan.

Yah, secara keseluruhan tahun 2018 telah sangat baik kepada kami.  Banyak kebahagian dan cerita manis di tahun ini. Banyak memori tertanam dalam hati.

Walaupun, rasanya tetap belum maksimal dalam banyak hal, terutama pengelolaan waktu. Masih sering menghabiskan waktu untuk yang engga-engga, seperti nonton atau browing facebook sampai berlama-lama. Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk hal yang lebih baik dan bermanfaat.

Resolusi tahun depan, yang paling penting adalah mengelola waktu dengan lebih baik, melakukan hal yang lebih bermanfaat.

Dan target tahun depan tentu saja adalah menyelesaikan tesis secepat mungkin.

Selamat datang 2019.

 

Uncategorized

#Happiness: good thing lately

Belakangan ini, cukup banyak hal baik yang terjadi, beberapa terlalu baik, sampai rasanya membuat hati membuncah.

Dan lucunya, terjadi sekarang ini, desember, akhir tahun 2018.

Aku ingat tahun lalu di bulan yang sama, rasanya tidak ada hal yang berjalan baik. Entah kenapa, waktu itu, semangat rasanya jatuh ke jurang yang sangat dalam, dan tidak terlihat harapan akan membaik.

Ok, aku berbicara terutama tentang tesis dan studi S3 ku saat ini. Entah bagaimana, tiba-tiba semuanya berubah. Rasanya, secara substansi, tidak banyak yang berubah, tidak ada hasil ajaib yang tiba-tiba muncul dan mengubah hasil negatif jadi positif, tapi entahlah, lebih ke perasaan lebih baik, yang muncul begitu saja.

Hal pertama yang memicu, mungkin karena review article ku yang diterima untuk publikasi itu. Sampai sekarang, rasanya masih senang luar biasa, haha.

Tapi hal yang benar-benar menggembirakan adalah, belakangan ini, Martin berulang kali bilang, dia puas dengan kinerjaku. Aku sendiri sebenarnya bingung, karena aku merasa aku belum optimal mengerjakan tesisku ini. Dan belum lama ini, saat membahas tentang tahun depan, saat di mana beasiswaku akan habis di tengah tahun, dia menjanjikan akan bisa melanjutkan beasiswaku, minimal sampai akhir tahun depan. Dan aku lumayan yakin, akan bisa menyelesaikan tesis ini tahun depan. Jadi semuanya sangat melegakan.

Dan baru kemarin, dia bahkan menyatakan akan mau membayarkan tuition fee juga, dan melanjutkan beasiswa secara full. Padahal untuk Kim dan Priyanka, dua murid PhD lain di tempatku, aku tahu Martin hanya memberikan separuh lebih dibanding beasiswa kampus. OMG, rasanya lega luar biasa. Bukan apa-apa, kami sejak tahun lalu, cukup tertekan dalam menyiapkan finansial untuk perpanjangan visa tahun depan. Sudah terbayang, akan butuh banyak sekali uang untuk aplikasi visa, med check, bayar tuition fee, dan juga mengumpulkan cukup uang untuk bank statement. Aku bahkan sudah menyiapkan skenario untuk meminjam uang, buat nambah-nambahin bank statement.

Lalu, dalam beberapa kali percakapan belakangan ini, Martin bahkan menawarkan kerjaan setelah lulus nanti, minimal sebagai assistant research fellow. Rasanya sungguh senang luar biasa. Rasanya seperti Cinderella, hidup berubah dalam semalam (ok, mungkin lebih cocok setahun). Dari perasaan down dan merasa tidak ada progress, tiba-tiba seperti yang doing very well banget, haha. Aneh.

Ok, cukup tentang tesis.

Hal lain yang menyenangkan belakangan ini, kami akhirnya berhasil memisahkan kamar tidur anak-anak. Sebenarnya rencana ini sudah lama, tapi selalu maju mundur, dan tidak terlalu diurusin. Kami butuh satu kasur lagi buat anak-anak, tapi selama ini tidak pernah serius mencari, atau harganya tidak cocok. Nah, kemarin menemukan kasus yang kami mau, dan harganya pun masuk, langsunglah kami angkut.

Anak-anak pun cepat adaptasinya, senang sekali punya kamar sendiri. Dan rumah jauh lebih menyenangkan sekarang. Aku merasa punya tempat buat bersantai di kamar, meja belajar yang proper buat ngerjain tesis. Dan hanging out di kamar anak-anak juga nyenangin. Ah, senang pokoknya.

Yang membuat hidup terasa lebih ringan sekarang ini, juga kami rasanya sudah lebih settle, dengan lingkaran teman-teman yang lebih stabil. Andry juga sekarang libur setiap hari minggu, jadi rasanya ada ruang buat bernafas setiap minggu. Di kampus, aku juga sudah lumayan ada teman ngobrol, walaupun itu-itu saja.

All in all, life is good lately, so grateful.

 

 

 

 

 

Uncategorized

#DearLala – 01

Dear Lala,

Ini pertama kali Mama menulis buat Lala di blog ini, moga-moga ke depannya makin banyak ya. Mama mau menulis tentang kejadian tadi pagi di sekolah. Saat ini Lala ada di penghujung year 1, sekolah tinggal 3 minggu lagi, dan setelah libur panjang, Lala akan naik kelas ke year 2. Lala saat ini sekolah di Ilam school, di room 14. Sejauh ini sih Lala tampaknya menikmati sekolah.

Biasanya setiap pagi, Mama akan mengantar Lala ke kelas. Kalau Koko Owen, dia sudah sendiri ke kelasnya. Tapi Lala sepertinya masih ingin Mama antar, dan dibantu menggantung tas, dan menaruh barang-barang Lala. Rutinitas tiap pagi adalah menggantung tas di hook yang ada nama Lala-nya, lalu mengeluarkan lunch box dan tempat minum, serta reading folder, lalu meletakkan ke tempatnya. Kalau sedang library day, juga mengeluarkan buku library yang dipinjam minggu lalu, dan ditaruh di box nya.

Makin ke sini, Lala sudah makin mau melakukan sendiri, walaupun masih suka Mama bantu. Mama sih senang-senang aja membantu Lala, soalnya nanti kalau sudah besar, mungkin tidak mau dibantu lagi. Kan? (ingat ga, Lala suka sekali ngomong “Kan?” begini kalau ingin menegaskan kalau perkataan lala benar).

Tapi Mama tahu, Lala juga harus belajar mandiri, dan belajar sigap. Jadi seringkali, walaupun Mama ada di situ, Mama minta Lala melakukannya sendiri.

Dan pernah beberapa kali, saat Mama Papa ada pekerjaan pagi-pagi, Lala cuma ditinggal di gerbang atau dekat kelas, dan Lala ke kelas sendiri. Mama yakin Lala bisa.

Tadi pagi, kita sampai sekolah agak telat. Salah Mama Papa juga sih, bangun kesiangan. Kita sampai di sekolah, belum sampai tempat parkir sepeda, bel berbunyi. Jadi Mama suruh Koko dan Lala langsung ke kelas, Mama mengunci sepeda dulu. Pas Mama sampai ke kelas Lala, Lala sedang menaruh-naruh barang. Sambil memegang tas di satu tangan, Lala tampaknya baru menaruh lunch box, dan sedang mengeluarkan reading folder untuk ditaruh di tempatnya. botol minum masih nyangkut di samping tas. Lala tampak sedikit tergopoh. Tak apa ya, itu namanya proses belajar, belajar untuk menjadi sigap, belajar untuk melakukan semua sendiri.

Mama ingat, biasanya Lala menggantung tas dulu baru mengeluarkan barang-barang. Tapi mungkin karena tadi sudah bel, Lala membawa tasnya ke dalam kelas, biar gampang mengeluarkan barang-barang. Mama senang Lala mencoba melakukannya dengan cepat, bahkan mencoba cara baru. Pasti Lala agak tergesa-gesa ya, pengen cepat-cepat selesai dan bisa segera duduk di mat.

I am proud of you baby, and love you always, just the way you are.

Uncategorized

Ada satu rasa, yang ku tidak menemukan kata untuk menggambarkannya.

Berulang kali ku membuka halaman ini, tempatku tuk menuang cita dan hasrat tapi aku tidak menemukan bentuknya.

Aku ingat, retret pertamaku dulu, kelompok kami dibimbing brother Phap De, yang sekarang sudah meninggal (I wish him a happy life). Saat menjelang akhir, mita waktu itu meminta izin untuk bernamaskara di hadapan beliau. Setelah selesai, Bhante Phap De lalu memeluknya erat.

Kurang lebih aku bisa membayangkan, apa yang mendorong Mita waktu itu, itu adalah gratitude, rasa terimakasih yang sangat mendalam.

Itulah yang aku rasakan saat ini. Perasaan yang jauh lebih besar dari sekedar rasa berterimakasih. Dari kemarin aku menggunakan istilah menemukan rumah, memang seperti itulah rasanya.

Menemukan vihara, guru, dan komunitas. Rumah.